Medan, katarakyat.co.id — Di tengah kondisi sejumlah rumah sakit yang menghadapi tingginya jumlah kunjungan dan keterbatasan kapasitas pelayanan, peran Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dinilai semakin penting dalam menjaga agar beban pelayanan kesehatan tidak seluruhnya bertumpu pada rumah sakit.
Ketua KPW Sumut Relawan Kesehatan Indonesia, Ikoriansyah, menilai Puskesmas harus mengambil peran yang lebih kuat melalui pendekatan promotif dan preventif sebagai langkah awal dalam menjaga kesehatan masyarakat.
“Ketika rumah sakit hampir seluruhnya menghadapi overkapasitas, maka Puskesmas tidak boleh hanya menunggu masyarakat datang dalam kondisi sudah sakit.
Langkah promotif dan preventif harus diperkuat karena jauh lebih berarti sebelum masyarakat membutuhkan pelayanan kuratif dan rehabilitatif,” ujar Ikoriansyah.
Menurutnya, Puskesmas memiliki posisi strategis karena berada lebih dekat dengan masyarakat.
Penguatan edukasi kesehatan, deteksi dini, pencegahan penyakit, pemantauan kelompok berisiko, pelayanan kesehatan keluarga, serta pemberdayaan masyarakat harus dilakukan secara konsisten dan terukur.
Ikoriansyah menegaskan, pendekatan kesehatan tidak semestinya hanya berorientasi pada pengobatan ketika masyarakat sudah mengalami sakit.
Upaya menjaga masyarakat tetap sehat harus menjadi bagian penting dari sistem pelayanan kesehatan.
“Jangan sampai masyarakat baru mendapatkan perhatian ketika sudah berada di rumah sakit. Puskesmas harus hadir lebih awal, melakukan edukasi, pencegahan, deteksi dini dan intervensi sesuai kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, kasus yang sebenarnya dapat dicegah atau ditangani lebih awal tidak semuanya berujung pada rumah sakit,” tegasnya.
Ia juga mendorong Dinas Kesehatan di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota untuk memastikan Puskesmas memiliki strategi yang jelas dalam menghadapi peningkatan beban pelayanan rumah sakit.
Menurut Ikoriansyah, penguatan Puskesmas bukan berarti mengurangi peran rumah sakit. Justru, pembagian peran yang berjalan baik antara Puskesmas dan rumah sakit dapat membantu menciptakan sistem rujukan yang lebih efektif dan memastikan pasien mendapatkan pelayanan sesuai kebutuhan medisnya.
“Rumah sakit harus fokus menangani pasien yang memang membutuhkan pelayanan lanjutan dan spesialistik. Sementara Puskesmas harus semakin kuat di lini promotif, preventif, deteksi dini, pelayanan dasar, serta tindak lanjut di masyarakat,” katanya.
Relawan Kesehatan Indonesia Sumatera Utara juga mendorong agar evaluasi terhadap pelayanan Puskesmas dilakukan secara berkala, khususnya terkait capaian program promotif dan preventif, deteksi dini penyakit, edukasi masyarakat, pengendalian faktor risiko, serta efektivitas sistem rujukan.
“Kalau kita ingin mengurangi tekanan terhadap rumah sakit, maka intervensinya tidak boleh hanya dilakukan di rumah sakit. Kita harus bergerak dari hulu. Perkuat Puskesmas, perkuat masyarakat, perkuat pencegahan. Ketika masyarakat sehat dan penyakit dapat ditemukan lebih dini, beban pelayanan kuratif di rumah sakit juga dapat ditekan secara lebih sistematis,” pungkas Ikoriansyah. (irs/red)