Waspada Influenza di Sumatera Utara: Jangan Panik, Jangan Pula Menganggap Remeh

Oleh: Taufik Ismail, M.K.M., ICAP I.

Beberapa hari terakhir masyarakat Sumatera Utara kembali dihadapkan pada pemberitaan mengenai meningkatnya kasus Influenza A. Informasi mengenai “super flu” tentu dapat menimbulkan kekhawatiran, terlebih masyarakat masih mengingat pengalaman pandemi COVID-19.

Namun, dalam menghadapi situasi seperti ini, masyarakat membutuhkan dua hal sekaligus: kewaspadaan dan ketenangan.

Dinas Kesehatan Sumatera Utara melaporkan 27 kasus Influenza A yang terdeteksi melalui sistem surveilans penyakit mirip influenza (ILI) dan infeksi saluran pernapasan akut berat (SARI). Pemeriksaan dilakukan melalui dua lokasi sentinel, yaitu Puskesmas Teladan di Kota Medan dan RSUD Drs. H. Amri Tambunan di Deli Serdang. Yang perlu diperhatikan adalah adanya peningkatan temuan, dari 3 kasus pada Agustus menjadi 18 kasus pada September.

Tetapi angka tersebut belum dapat dianggap sebagai gambaran seluruh kasus influenza di Sumatera Utara, karena pemeriksaan sentinel dilakukan pada lokasi dan kelompok tertentu. Artinya, data tersebut lebih tepat dipandang sebagai sinyal surveilans yang perlu diperhatikan, bukan alasan untuk menyimpulkan bahwa Sumatera Utara sedang mengalami pandemi baru.

Secara nasional, Kementerian Kesehatan pada 28 September 2026 juga menyampaikan bahwa aktivitas influenza memang mengalami peningkatan. Namun, berdasarkan surveilans hingga minggu ke-38 tahun 2026, situasi masih berada dalam rentang kewaspadaan dan belum menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Kemenkes menekankan pentingnya penguatan surveilans dan kesiapsiagaan, bukan kepanikan.

Jangan Mengulang Kesalahan: Menganggap Flu Selalu Ringan

Persoalannya bukan sekadar apakah influenza berbahaya atau tidak. Persoalan yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat merespons penularan penyakit pernapasan.

Flu sering dianggap sebagai penyakit biasa. Batuk, pilek, demam dan badan terasa lemah kadang membuat seseorang tetap beraktivitas, pergi bekerja, bersekolah, menghadiri acara, bahkan bepergian.

Padahal ketika seseorang sedang mengalami infeksi saluran pernapasan, tetap beraktivitas tanpa memperhatikan etika kesehatan dapat meningkatkan risiko penularan kepada orang lain.

Terlebih lagi, tidak semua orang memiliki risiko yang sama.

Anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit penyerta tertentu dapat mengalami risiko komplikasi yang lebih besar. Karena itu, perlindungan terhadap kelompok rentan harus menjadi perhatian bersama.

Masyarakat Tidak Perlu Panik

Kewaspadaan tidak sama dengan kepanikan.

Masyarakat tidak perlu memborong obat, melakukan pengobatan sendiri secara berlebihan, atau menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Sebaliknya, masyarakat perlu kembali membangun kebiasaan sederhana yang sudah terbukti penting dalam menghadapi penyakit pernapasan.

Jika mengalami demam, batuk, pilek atau keluhan saluran pernapasan, gunakan masker, kurangi kontak dekat dengan orang lain dan beristirahat di rumah bila memungkinkan.

Rajin mencuci tangan dengan sabun, menjaga ventilasi ruangan, mengonsumsi makanan bergizi, memenuhi kebutuhan cairan dan menjaga kondisi tubuh juga merupakan bagian dari pencegahan.

Vaksinasi influenza juga dapat dipertimbangkan, khususnya bagi kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi, melalui fasilitas pelayanan kesehatan yang menyediakan layanan tersebut.

Jangan Sembarangan Mengonsumsi Antibiotik

Satu hal yang juga perlu menjadi perhatian adalah kebiasaan membeli dan mengonsumsi obat tanpa pemeriksaan yang tepat.

Influenza disebabkan oleh virus. Antibiotik bukan obat untuk mengatasi infeksi virus influenza. Karena itu, penggunaan antibiotik seharusnya berdasarkan indikasi medis dan penilaian tenaga kesehatan.

Masyarakat sebaiknya tidak menjadikan pengalaman pengobatan sebelumnya sebagai dasar untuk mengonsumsi obat yang sama ketika mengalami flu.

Sekolah, Kantor dan Tempat Keramaian Harus Ikut Berperan

Pencegahan influenza bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan.

Sekolah harus mengajarkan etika batuk dan bersin serta mendorong siswa yang sedang sakit untuk beristirahat dan mendapatkan pemeriksaan.

Perusahaan dan perkantoran juga perlu memberikan ruang bagi pekerja yang sakit untuk tidak memaksakan diri masuk kerja.

Di tempat-tempat dengan kepadatan tinggi, ventilasi ruangan, kebersihan tangan dan penggunaan masker ketika sedang mengalami gejala pernapasan harus kembali menjadi budaya kesehatan.

Kita tidak harus menunggu sampai terjadi wabah besar untuk mulai disiplin.

Pemerintah Perlu Memperkuat Surveilans

Di sisi lain, pemerintah daerah perlu memastikan sistem surveilans berjalan optimal.

Peningkatan kasus yang ditemukan harus diikuti dengan pemeriksaan, pemantauan tren, penguatan kapasitas laboratorium, komunikasi risiko kepada masyarakat serta kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan.

Data harus diperbarui secara transparan agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar dan tidak bergantung pada kabar yang beredar di media sosial.

Hal ini penting karena data sentinel memang berfungsi sebagai sistem deteksi dini. Pemerintah sendiri secara nasional terus melakukan pemantauan influenza melalui jaringan puskesmas, rumah sakit dan balai karantina kesehatan.

Saatnya Membangun Kesadaran, Bukan Ketakutan

Sumatera Utara tidak membutuhkan kepanikan.

Yang dibutuhkan adalah masyarakat yang waspada, disiplin dan bertanggung jawab.

Jika sehat, mari menjaga kesehatan.

Jika sakit, jangan memaksakan diri beraktivitas dan jangan menularkan kepada orang lain.

Jika gejala memburuk atau terdapat kondisi yang mengkhawatirkan, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Dan yang tidak kalah penting: jangan menyebarkan informasi kesehatan yang belum terverifikasi.

Pengalaman COVID-19 seharusnya mengajarkan kita bahwa penyakit menular tidak boleh diremehkan, tetapi juga tidak boleh dihadapi dengan ketakutan yang berlebihan.

Waspada adalah bentuk tanggung jawab.
Menjaga diri adalah bentuk kepedulian.
Dan melindungi orang lain adalah bagian dari kesehatan masyarakat.

Sumatera Utara harus tetap tenang, tetapi jangan lengah.

Jangan panik. Jangan abai. Mari cegah penularan influenza bersama.

Pengaturan Cookie

katarakyat.co.id menggunakan cookies untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan Anda.